Most Recent

Chōṭō kathā (Himalaya)

........ Muncul tiba-tiba, tanpa sebelumnya ingin menceritakan. Segan dan takut dengan apa yang akan terjadi nantinya dengan hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya saya pribadi. Sudah agak lama memang perjalanan ini saya lakukan. Tetapi hanya sisi keindahan dan "tiada dua" takjub yang akan menjadi bahan pembelajaran pada perjalanan hidup kedepan dan tulisan awam ini tentunya. Disini, saya tidak mengangkat cerita bagaimana perjalanan saya menuju kesini dengan detail (transportasi dan apa saja yang terjadi dalam perjalanan ini) saat menuju kemari. Kathmandu, Ibukota Nepal menjadi sebuah Rahmat dan Rezeki yang telah Allah Subhanahu Waa Ta'Ala titipkan saat itu. Tidak pernah terbayangkan dan terpikir untuk menuju kesana sebelumnya. Salah satu negara yang menjadi impian setiap pendaki gunung diseluruh dunia, dengan ikon mendunia "Mount Everest". Nepal, salah satu negara di Asia Selatan dengan iklim dan alam es nya yang membentang luas, bahkan sampai dengan setiap jangkauan sudut mata memandang. Hanya rasa syukur yang tidak pernah dapat saya ungkapkan dan menulisnya tentang fenomenal yang sudah terekam jelas di ingatan lemah dan sementara ini.
......... 12 Mei 2012, saat itu saya mempunyai kesempatan mengunjungi Nepal, setelah selesai mengikuti kegiatan yang bertajuk "Inspiring Care and Motivation with History" yang diadakan oleh National Geographic Society, bertepatan dengan "World Moment" saat itu. Karena tepat pada 9 Mei 2012, di Kota Agra, India. Tempat dimana "Taj Mahal" berdiri dengan megah dan indah serta kebesaran cintanya, memperingati hari jadinya yang ke- 359 Tahun. Setelah selesai dibangun pada 9 Mei 1653 (data saya dapatkan dari prasasti penanggalan di situs Taj Mahal saat itu). Dengan berakhirnya kegiatan itulah, kami (Rombongan NGS International) mengakhiri kegiatan dengan mengunjungi New Delhi, China, Bhutan dan Tibet serta ditutup dengan perjalanan ke Kathmandu, Nepal.
......... Baiklah seperti yang saya ceritakan sebelumnya, disini saya hanya akan mencoba menulis tentang Nepal dan beberapa daya kharismatiknya. Bertolak dari Lhasa Gongar Airport (bandara di Lhasa, Ibukota Tibet) menuju Tribhuvan International Airport (bandara di Kathmandu, Ibukota Nepal). Setelah menempuh perjalanan udara sekitar 2 jam 10 menit, akhirnya dengan perasaan syukur (Alhamdulillah) kami tiba dengan selamat di Kathmandu, Nepal. 
......... Mulailah "jepretan-jepretan" kamera dengan teknik sangat amatir saya berfungsi kembali. Ada banyak moment gambar (menurut saya) indah terabadikan. Saat itu, di bus yang kami tumpangi menuju Pokhara ada 3 orang lokal (belakangan saya ketahui mereka dari Suku Gandaki). Merekalah yang memberikan beberapa informasi kekinian yang sangat penting. Mulai dari latar belakang, daya tarik dan segala keindahan "view" alam di tempat-tempat yang akan kami kunjungi 17 hari kedepan.
......... Ada banyak ketakjuban yang tak akan pernah dapat saya ceritakan dengan habis selama berada di Pokhara, Dhorpatan Hunting Reserve, Annapurna Conservation Area, Manaslu Conservation Area. Padahal setelah 14 hari saya mengunjungi tempat-tempat tersebut berbagai hal dan kondisi alamnya yang menurut saya tiada duanya didunia, tentu banyak sekali histori dan kronologis perjalanan yang dapat dibagikan kepada semua orang. Keterbatasan dalam menulis dan hal-hal lainnya membuat saya hanya dapat memberi gambaran pada satu objek kunjungan saja. Iya, Danau Gokyo (Gokyo Lakes) Himalaya yang akan saya cerita sedikit kali ini. Setelah memanfaatkan sisa waktu 3 hari lagi (sebelum kami semua kembali ke negara asal). Danau Gokyo merupakan tempat yang direkomendasi oleh Leader Team. Mr. Olsen (Expert NGS Int) yang berasal dari Denmark. Untuk ke tempat ini, kami harus berjalan memutar dari Manaslu Conservation Area menuju Kathmandu kembali. Perjalanan ditempuh dengan menempuh jalur darat (bus). Setelah sampai ke Kathmandu (7 jam dari Manaslu), kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kawasan Lukla sampai ke Namche Bazaar dan akhirnya menuju Gokyo Lakes. Inilah perjalanan dan pendakian gunung es pertama saya. Motivasi dari "Sang Expert" bahwa Gokyo Lakes merupakan tempat terakhir pendaki-pendaki Gunung Everest berkumpul diseluruh dunia, membuat saya menjadikan rasa takut dan lemah "seakan-akan" dapat diatasi.
         Setelah menempuh perjalanan panjang selama 2 hari. Hal ini menjelaskan bahwa, kami telah melewati 2 camp etape untuk bermalam. Tepatnya 30 Mei 2012, jam menunjukkan pukul 09.47 pagi waktu setempat kami sampai di tempat yang menjadi "Rumah" perkumpulan para "calon" Pendaki Gunung Everest. Dikawasan ini terdapat beberapa bangunan besar yang menjadi "Training Camp" dan "Carantina Camp" para pendaki-pendaki tersebut, selebihnya merupakan bangunan yang menjadi penginapan untuk orang-orang umum seperti kami yang tidak mempunyai "kesempatan" melakukan pendakian. Terdapat batas akhir untuk melihat-lihat kondisi dan apa saja yang terjadi di Training Camp tersebut untuk umum, selebihnya di batas akhir tersebut kita dilarang masuk. Aturan yang sangat jelas dan bagus untuk kita patuhi dari pihak pengelola kawasan Everest (MNEP) dan kriteria kepatuhan pendakian yang turut dikawal oleh UNESCO. Memiliki ketinggian 5.362 MDPL, menjadikannya sebagai bentangan dan genangan air diketinggian yang maha indahnya dikelilingi oleh dinding-dinding es yang melekat pada perkasanya pegunungan Ciptaan Sang Khaliq ini. Subhanallah.....! Hati berdecak kagum, darah menjadi seakan mengalir cepat mempengaruhi detak jantung dengan sangat kencang saat melihatnya dengan sangat jelas dan nyata. Berbagai perasaan mengisi imajinasi, seakan saya merasa tak memikirkan apa-apa lagi disini, hanya melihat keindahan yang tersuguh jelas didepan saya. Yaa Rabbana, sangat indah ciptaanNya, tiada siapapun manusia yang dapat menyaingi ciptaan Allah Subhanahu Waa Ta'Ala.
        Tepat dihari yang ditentukan, 4 Juni 2012. Kami telah sampai di Tribhuvan International Airport kembali. Tiada hal yang membuat saya melupakannya. Terbersit dipikiran tentang keindahan-keindahan, pahit manis perjalan ini. Semua proses dan aturan protokoler telah terlewati dengan wajar. Semua teman-teman disana saat itu, menurut saya juga merasakan hal yang sama. Hanya saja dimensi menciptakan suasana hati yang senang atau sebaliknya saja yang berbeda. Berharap ada perubahan hidup tentunya lewat perjalanan ini. Karena saya yakin, setiap perjalanan ada hikmah dan arti khusus untuk hidup yang lebih baik dan berharga tentunya. Seperti yang saya yakini dengan syair dan petikan makna pada "Lagu Satu / Hidup" yang menjadi hiburan saya saat melakukan penerbangan panjang menuju Kuala Lumpur International Airport saat itu.
       Cukup, sampai disini. Saya tak dapat membendung ingin berhenti bercerita lanjut saat ini. Seakan ada perasaan menginginkan untuk berhenti sampai disini. Ada perasaan berterima kasih yang tak terhingga kepada siapapun yang telah mengantarkan saya sampai pada yang semua yang telah saya jalani. Kedua orangtua beserta adik-adik tercinta, para ulama dan guru yang telah membuka cakrawala ilmu, rumah bernaung dan tempat menempa hobby (Metalik FE Unsyiah) beserta Keluarga Besarnya, National Geographic Society Internasional dengan ikhlas menerima saya untuk belajar mendalami dan memahami apa saja tentang "Inspiring People", sahabat Oi Aceh dan Nasional serta Internasional yang telah memberi banyak arti "Hidup" buat perjalanan ini, sampai pada sahabat-sahabat dan rekan-rekan kerja, teman yang tak dapat tersebutkan secara detail. Tanpa "kalian" semua, saya tak dapat sampai didetik pencapaian penuh makna dan keharuan ini. []


 Banda Aceh, Indonesia
20 Maret 2016
Chōṭō kathā (Himalaya) Chōṭō kathā (Himalaya) Reviewed by Mac_Noumi on 14.27.00 Rating: 5

Tidak ada komentar: